Menu:

 

Oleh : Ruslan Andy Chandra
18-Aug-2008, 20:52:39 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Selama 63 tahun Indonesia merdeka, pembangunan pendidikan telah mengalami kemajuan yang berarti, selain masih banyak tantangan dan masalah yang harus ditangani dengan kebersamaan, kerja keras, dan keikhlasan.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo mengatakan, reformasi pendidikan nasional secara mendasar melalui tata aturan perundang-undangan telah dimulai sejak tahun 1999, yaitu sejak lahirnya Undang-undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang mencantumkan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia. Sementara itu, lanjut Mendiknas, Undang-undang Dasar 1945 Amandemen II Tahun 2000 menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia, sedangkan UUD 1945 Amandemen IV tahun 2002 telah mengamanatkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara, serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.

"Alhamdulillah Bapak Presiden telah memutuskan bahwa untuk anggaran 2009 alokasi minimal 20 persen itu akan dipenuhi pemerintah," kata Mendiknas pada upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun ke-63 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, di Depdiknas, Minggu (17/08/2008).

Mendiknas menyebutkan, selain amandemen UUD 1945, sebagai landasan hukum utama dalam menyelenggarakan pembangunan pendidikan, telah terbit UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, UU No.43/2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Pemerintah (PP) No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, PP No.55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, PP No.47/2008 tentang Wajib Belajar, serta PP No.48/2008 tentang Pendanaan Pendidikan. "Itu semua akan memperkokoh kerangka hukum bagi pembangunan pendidikan nasional," katanya.

Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, melalui berbagai kebijakan terobosan bidang pendidikan telah terwujud peningkatan, perluasan, dan pemerataan akses pendidikan; peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan; serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik kelembagaan pendidikan.

Selama kurun waktu 2005-2007, kata Mendiknas, program bantuan operasional sekolah (BOS) misalnya, telah membebaskan 70,3 persen murid SD/MI dan SMP/MTs dari pungutan biaya operasional. Sementara itu, lanjut Mendiknas, pada 2007 telah berhasil ditingkatkan kualifikasi akademik 81.800 guru hingga S1/D4 dan 8.540 dosen hingga S2/S3, serta sertifikasi bagi 147.217 guru di berbagai daerah.

Mendiknas menyebutkan, melalui penerapan TIK secara massal untuk E-pembelajaran dan E-administrasi sampai saat ini telah tersambung dengan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) lebih dari 15.000 sekolah, 82 PTN, 153 PTS, 36 unit pendidikan belajar jarak jauh Universitas Terbuka, yang secara keseluruhan melayani lebih kurang 60 persen populasi mahasiswa.

Kemudian, lanjut Mendiknas, melalui pembangunan prasarana dan sarana pendidikan secara massal pada semua jenjang pendidikan telah dibangun sebanyak 5.419 unit sekolah baru, 38.762 ruang kelas baru, 4.428 perpustakaan, dan 8.581 laboratorium. Sementara itu, kata Mendiknas, telah direhabilitasi ruang kelas SD/MI sebanyak 217.113 ruang kelas, SMP 18.501 ruang kelas, dan SMA/SMK/SLB sebanyak 2.358 ruang kelas.

Pada bidang perbukuan, kata Mendiknas, Depdiknas telah melakukan reformasi secara mendasar, yaitu dengan pembelian hak cipta buku dari penulis atau penerbit dan mengizinkan siapa saja untuk menggandakannya, menerbitkannya, atau memperdagangkannya dengan harga murah. Pada 2007, kata Mendiknas, telah dibeli 49 judul buku dan telah ditentukan harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp. 4.452 hingga Rp. 19.376 per buku. Pada 2008 sampai pertengahan Agustus ini, lanjut Mendiknas, telah dibeli 356 jilid buku, sehingga keseluruhan 407 jilid. "Dengan reformasi ini diharapkan buku teks pelajaran yang bermutu tersedia dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau oleh masyarakat," ujarnya.

Di pihak lain, Mendiknas, menegaskan bahwa tugas yang diemban dalam memajukan pendidikan belum selesai. Menurut Mendiknas, masih perlu terus mengembangkan pendidikan nasional guna menjawab berbagai tantangan dan perubahan yang terus berlangsung pada semua aspek kehidupan di negara ini. "Dengan semangat proklamasi kemerdekaan dan nilai-nilai yang menyertainya, kita percaya dapat meningkatkan pengabdian kita dalam membangun pendidikan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan global," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Mendiknas menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para siswa, mahasiswa, sekolah, dan perguruan tinggi yang telah meraih berbagai prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Demikian juga kepada para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah berprestasi di bidangnya masing-masing dari tingkat pusat sampai daerah terpencil.

"Selain itu, saya juga mengucapkan selamat kepada para pejabat dan pegawai yang telah mendapatkan penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Bapak Presiden Republik Indonesia. Semoga penghargaan itu dapat memotivasi Saudara-saudara untuk bekerja lebih baik dan memberikan pengabdian yang terbaik kepada negara dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional," kata Mendiknas.(MC-DPN/rac).

* Foto Ruslan Andy Chandra: Mendiknas dan Ibu Bambang Sudibyo saat berjalan meninggalkan Istana Kepresidenan RI seusai menghadiri Upacara HUT RI- ke-63, (17/08/2008).


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 
 

tokohindonesia.com
Ki Hadjar Dewantara
(Yogyakarta, 2 Mei 188926 April 1959) adalah seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Lahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, beliau mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun". Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, 2 Mei, kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000.

Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.


 
 

Oleh : Aldy Madjid

14-Nov-2007, 08:33:13 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Penambahan mata pelajaran Ujian Nasional (UN) untuk SMP, SMK dan SMA sudah sesuai dengan peraturan pemerintah. Sedangkan pelaksanaan UN untuk SD akan mulai dilaksanakan pada 2008. Hal itu dijelaskan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dalam jumpa pers usai Rapat Koordinasi Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan di Kantor Bidang Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Selasa (13/11).

Mendiknas mengatakan, untuk UN SMP angka batas kelulusan naik dari 5,0 menjadi 5,25 dan ditambah dengan satu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sedangkan SMK dan SMA angka batas kelulusan juga dinaikkan dari 5,0 menjadi 5,25 dengan ditambah tiga mata pelajaran sesuai jurusan masing-masing. Untuk IPA ditambah mata pelajaran fisika, biologi dan kimia. Serta untuk IPS ditambah ekonomi akuntasi, geografi dan sosiologi. Ditandaskannya, penambahan jumlah mata pelajaran UN ini sudah sesuai dengan PP.

Mendiknas menambahkan, dengan penambahan mata pelajaran untuk UN maka dipastikan anggaran juga akan naik. Hal itu telah dibahas bersama dengan DPR RI dan tidak ada masalah. Sedangkan mengenai angka batas kelulusan, pemerintah akan menaikkan standar yang wajar antara 5,5 hingga 6,0.

Untuk penambahan UN, dari gedung DPR mengusulkan agar namanya berubah dari UN menjadi Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Pasalnya, menurut Mendiknas, pelaksanaan dan kelulusan akan dilaksanakan sekolah masing-masing dengan persentase soal 25 persen dari pusat dan 75 persen dari propinsi.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com